Jumat, 22 April 2011

The Journey

 

      Aku masih duduk memandang luar jendela. Semuanya begitu berbeda. Tidak ada tanda kehidupan sama sekali. Jalanan masih membentang berapa ratus kilometer jauhnya. Seperti sudah lama sekali duduk dalam kesunyian. Membosankan. 
      2 hari lalu...
"ibu! ibu tidak akan percaya dengan apa yang temanku dan aku lakukan!" aku berteriak sekencang mungkin dari halaman rumah. Tetapi saat kutemukan ibuku yang sedang duduk di ruang keluarga bersama ayah. Yang kulihat bukan keceriaan yang dulunya selalu kutemui. Yang kutemui k ali ini adalah sebuah kejutan pahit dari orang tuaku. 
       Rumahku akan disita? 
maksudku ... ayolah, aku baru saja menikmati kehidupan baruku di kota terpencil ini dan sekarang harus mencari tempat tinggal lagi? yang benar saja. Dan yang terpenting. Aku tidak mau. 
       
        Ibuku memberitahukan sekolahku dan pergi besok pagi. Aku pamit ke tamn-temanku agar tidak melupakanku dan akhirnya kita pun menangis bersama dipelukanku. 
        Aku tidak bisa melakukan apa-apa. aku masih berumur 13 tahun. menjalani masa remajaku dan masa jatuh cinta. Aku tergolong lemah. 

***

         Bisa kutebak kita akan tinggal di tempat yang kecil di kota antah berantah dan penduduknya tidak mengerti apa itu motor. huh... sepertinya dad benar-benar tidak tahu kemana kita akan pergi. Jelas saja, jalanan begitu sepi dan tidak dari tadi pun aku melihat mobil melewati kita. Mengapa harus di tempat terpencil? padahal dad berhutang banyak uang ke teller dan dad mungkin bisa bekerja di suatu tempat yang gajinya cukup untuk menghidupiku, mom dan jassie adikku. Lihatlah, keluarga kita sangatlah kecil dan mandiri! Sudah cukup aku hidup di kota yang tidak ada kehidupan sedikitpun! 
          Dan ternyata benar. Kita hinggap di sebuah kota kecil yang penduduknya mungkin tidak mengenal sepeda motor. Dad memberhentikan mobilnya dan keluar dari mobil, menyapa penduduk dengan ramah. Aku keluar dari mobil. Menghampiri dad dan menyapa laki-laki tua itu. 
           "hai, senang bertemu." aku bersalaman. 
           "iya. Panggil aku wilder. pemilik peternakan ini." wilder berjalan menuju rumah. aku mengukutinya, ingin tahu apa yang akan dilakukannya. Wilder masuk ke dalam kandang kuda, sepertinya. 
           "Willy! ada yang ingin kukenalkan!" Sepertinya dia ingin aku berkenalan dengan cucunya. Yang mungkin berbaju kotor, gendut dan bau kotoran babi. kres,kres. Suara dedaunan yang sudah busuk berbunyi dengan injakan kakinya. Dia memperlihatkan wajahnya. 

            Dia sama sekali tidak seperti yang kubayangkan tadi. Dia begitu manis, berkulit putih, dan berambut coklat. Aku terbelalak kaget.